Tools & SaaSDiperbarui

Cara Daftar QRIS untuk UMKM - Biaya, Syarat & Langkah Lengkap

Panduan daftar QRIS UMKM: beda statis vs dinamis, tarif MDR terbaru (0% mikro sampai Rp500rb), syarat dokumen, dan cara daftar via bank atau e-wallet.

Oleh ··Diperbarui 14 Juli 2026·6 menit baca

Pemandangan di kasir warung, kafe, sampai lapak pasar di Indonesia sudah berubah total: pembeli lebih sering mengeluarkan ponsel daripada dompet. Di balik perubahan itu ada satu standar yang menyatukan semuanya - QRIS. Buat UMKM, punya QRIS bukan lagi sekadar "biar kelihatan modern", tapi soal tidak kehilangan penjualan dari pelanggan yang memang tidak bawa uang tunai. Kabar baiknya, mendaftar QRIS jauh lebih mudah dan murah daripada yang dibayangkan kebanyakan pelaku usaha. Artikel ini memandu prosesnya dari nol - apa itu QRIS, pilih jenis yang tepat, biaya yang perlu disiapkan, sampai langkah daftar dan cara mengelolanya.

Apa itu QRIS dan kenapa UMKM butuh

QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) adalah standar QR code pembayaran nasional yang ditetapkan Bank Indonesia. Inti idenya sederhana tapi kuat: satu QR code untuk semua aplikasi pembayaran. Dengan satu QRIS, pelanggan bisa bayar pakai GoPay, OVO, DANA, ShopeePay, atau mobile banking bank apa pun - tanpa kamu perlu memasang banyak QR berbeda.

Kenapa ini penting buat UMKM:

  • Tidak kehilangan penjualan. Pelanggan yang tidak bawa tunai tetap bisa bertransaksi.
  • Lebih aman. Mengurangi uang tunai di laci berarti mengurangi risiko salah hitung, uang palsu, dan pencurian.
  • Catatan otomatis. Setiap transaksi tercatat digital di dashboard - memudahkan pembukuan dan rekonsiliasi.
  • Murah. Biaya transaksinya kecil dan tidak ada biaya bulanan dari sebagian besar penyelenggara untuk merchant kecil.

QRIS Statis vs Dinamis - pilih yang mana

Sebelum mendaftar, pahami dua jenis QRIS supaya kamu memilih yang sesuai skala usaha:

AspekQRIS StatisQRIS Dinamis
BentukSatu QR tetap, dicetak/ditempelQR berbeda tiap transaksi
Input nominalPelanggan ketik sendiriOtomatis dari kasir/POS
Risiko salah nominalAda (pelanggan salah ketik)Minim
KecepatanCukup cepatPaling cepat
Biaya & setupPaling murah, tanpa alatPerlu integrasi kasir/POS
Cocok untukWarung, lapak, usaha kecilVolume tinggi, ritel, F&B ramai

Saran praktis: kalau kamu baru mulai atau transaksi belum banyak, mulai dari QRIS statis - cukup cetak QR dan tempel. Begitu volume naik dan antrean mulai panjang, pertimbangkan upgrade ke QRIS dinamis yang terhubung ke aplikasi kasir/POS agar nominal terisi otomatis dan tidak ada salah input.

Biaya QRIS: MDR yang perlu kamu tahu

Biaya utama QRIS adalah MDR (Merchant Discount Rate) - persentase kecil yang dipotong otomatis dari setiap transaksi. MDR ditetapkan Bank Indonesia dan dipotong dari sisi merchant, bukan dibebankan ke pelanggan (membebankan biaya QRIS ke pembeli justru dilarang).

Sejak pembaruan skema Bank Indonesia yang berlaku Maret 2025 dan masih berlaku pada 2026, tarif MDR QRIS bersifat berjenjang - besarnya tergantung kategori usaha dan nilai transaksi:

Kategori merchantMDR per transaksi
Usaha mikro (UMI), transaksi sampai Rp 500.0000% (gratis)
Usaha mikro (UMI), transaksi di atas Rp 500.0000,3%
Merchant reguler (usaha kecil/menengah/besar)0,7%

Poin yang sering terlewat: untuk merchant kategori usaha mikro, transaksi bernilai sampai Rp 500.000 tidak kena potongan sama sekali (0%). Batas ini sebelumnya Rp 100.000, lalu dinaikkan menjadi Rp 500.000 - kabar bagus buat warung dan lapak yang mayoritas transaksinya di bawah setengah juta rupiah. Bonus lain: transaksi QRIS mikro sampai Rp 500.000 juga tidak dikenai PPN.

Contoh perhitungan di merchant mikro:

  • Transaksi Rp 400.000: MDR 0%, dana masuk penuh Rp 400.000.
  • Transaksi Rp 600.000: MDR 0,3%, potongan Rp 1.800, dana masuk Rp 598.200.

Tetap kecil dibanding manfaat tidak kehilangan penjualan. Untuk merchant reguler, transaksi Rp 100.000 dengan MDR 0,7% kena potongan Rp 700 - dana masuk Rp 99.300.

Catatan penting: tarif MDR bisa berubah mengikuti kebijakan Bank Indonesia, dan ada kategori khusus (mis. pendidikan 0,6%, SPBU 0,4%, sebagian layanan publik 0%) dengan tarif berbeda. Selalu konfirmasi angka terbaru ke bank atau penyelenggara saat mendaftar. Selain MDR, mayoritas penyelenggara tidak mengenakan biaya bulanan untuk merchant kecil, tapi pastikan ini saat daftar. Kalau usahamu tumbuh dan mulai wajib jadi PKP, biaya-biaya transaksi digital ini punya implikasi pajak tersendiri - pahami ambangnya di kapan UMKM wajib PKP dan cara setor PPN.

Syarat dan dokumen

Persyaratan bisa sedikit berbeda antar penyelenggara, tapi umumnya kamu butuh:

  • KTP pemilik usaha
  • Foto usaha atau tempat usaha
  • Nomor rekening bank untuk settlement dana
  • NPWP - biasanya wajib untuk merchant reguler, dan tidak wajib untuk usaha mikro
  • Untuk badan usaha (PT/CV): tambahan dokumen legalitas seperti NIB

Kalau usahamu belum punya legalitas formal sama sekali, kamu tetap biasanya bisa daftar sebagai merchant mikro perorangan. Tapi mengurus NIB lewat OSS tetap dianjurkan untuk akses fasilitas usaha yang lebih luas.

Langkah daftar QRIS

Prosesnya umumnya selesai dalam hitungan hari:

1. Pilih penyelenggara. Tentukan mau daftar lewat bank (BCA, BRI, Mandiri, BNI, bank daerah) atau non-bank/e-wallet (GoPay, OVO, DANA, ShopeePay). Tips: pilih yang rekening utamanya sudah kamu pakai sehari-hari supaya pencairan dana lebih praktis.

2. Siapkan dokumen. Kumpulkan KTP, foto usaha, nomor rekening, dan NPWP bila ada - seperti daftar di atas.

3. Ajukan pendaftaran. Daftar lewat aplikasi merchant penyelenggara (paling cepat) atau datang ke cabang bank. Isi data usaha, unggah dokumen, dan pilih kategori merchant (mikro atau reguler).

4. Verifikasi & aktivasi. Penyelenggara akan memverifikasi data. Setelah disetujui, akun merchant aktif dan kamu menerima QR code beserta akses dashboard transaksi.

5. Pasang QR & tes. Cetak QRIS statis dan pasang di tempat yang mudah terlihat pelanggan, atau integrasikan QRIS dinamis ke kasir. Lakukan satu transaksi percobaan dengan nominal kecil untuk memastikan dana benar masuk ke rekening yang tepat.

Setelah aktif: kelola transaksi & rekonsiliasi

QRIS yang sudah aktif bukan berarti tugas selesai. Disiplin pencatatan justru di sinilah pentingnya:

  • Cocokkan harian. Setiap tutup toko, bandingkan total transaksi QRIS di dashboard dengan catatan penjualanmu. Selisih kecil yang dibiarkan menumpuk akan menyulitkan pembukuan.
  • Pantau settlement. Pastikan dana H+1 benar-benar masuk. Catat jadwal settlement masing-masing penyelenggara kalau kamu pakai lebih dari satu.
  • Pisahkan rekening. Idealnya QRIS terhubung ke rekening bisnis yang terpisah dari rekening pribadi agar arus kas usaha jelas.
  • Manfaatkan data. Dashboard QRIS memberi data jam ramai dan rata-rata transaksi - pakai untuk keputusan stok dan jadwal karyawan.

Untuk pencatatan yang lebih rapi, integrasikan dengan aplikasi catatan keuangan UMKM supaya transaksi cashless dan tunai tergabung dalam satu laporan.

Satu catatan penting: QRIS paling pas untuk pembayaran langsung di tempat (offline). Kalau kamu juga jualan lewat website toko sendiri dan butuh menerima transfer bank, kartu, atau e-wallet secara online, QRIS biasanya dipadukan dengan payment gateway untuk toko online - banyak penyedia payment gateway sekaligus menyediakan channel QRIS di halaman checkout.

Kesalahan umum & tips

Mendaftar pakai rekening pribadi yang jarang dipantau. Akibatnya dana masuk tapi tidak terlacak. Pakai rekening yang kamu cek rutin.

Membebankan biaya QRIS ke pelanggan. Ini dilarang dan bisa membuat pelanggan kabur. MDR adalah biaya merchant, anggap sebagai ongkos berjualan.

Lupa rekonsiliasi. Transaksi digital terasa "otomatis beres", padahal tanpa pencocokan harian, selisih dan potensi fraud sulit terdeteksi.

Hanya pasang satu QR yang sulit terlihat. Letakkan QRIS di posisi yang jelas di kasir, dan tambahkan tanda "Terima QRIS" agar pelanggan tahu sebelum antre.

Tidak upgrade saat volume naik. Kalau antrean makin panjang karena pelanggan ketik nominal manual, itu sinyal untuk pindah ke QRIS dinamis.


QRIS adalah salah satu upgrade dengan rasio manfaat-terhadap-biaya paling tinggi untuk UMKM Indonesia hari ini: setup-nya murah, biayanya kecil, dan dampaknya langsung terasa pada penjualan dan kerapian catatan. Mulai dari QRIS statis kalau kamu baru memulai, disiplin rekonsiliasi harian, dan upgrade ke dinamis saat volume sudah menuntut. Yang penting: jangan sampai ada calon pembeli yang membatalkan transaksi hanya karena kamu belum menerima pembayaran digital.


Baca juga: Pilih Payment Gateway untuk Toko Online UMKM | Aplikasi Catatan Keuangan UMKM | Cash Flow Management untuk UMKM

BagikanWhatsAppXLinkedIn

Edisi mingguan

Dapat insight UMKM tiap Selasa

1 email, 1 topik, 5 menit baca. Tanpa promo, tanpa spam. Berhenti kapan saja.

Kami tidak akan share email kamu ke pihak ketiga. Baca kebijakan privasi.

Baca lainnya

Artikel terkait