Legal & RegulasiDiterbitkan

Sertifikasi Halal MUI/BPJPH untuk UMKM (2026): Self-Declare vs Reguler

Aturan sertifikasi halal wajib untuk UMKM Indonesia per UU 33/2014. Beda jalur Self-Declare vs Reguler, biaya, durasi, dan dokumen yang perlu disiapkan.

Oleh ··5 menit baca

Sejak UU 33/2014 Jaminan Produk Halal dan rolloutnya bertahap, sertifikasi halal jadi mandatory untuk banyak kategori produk UMKM Indonesia. Tahap awal (17 Oktober 2024) sudah cover makanan-minuman olahan. Kategori lain (kosmetik, suplemen, obat tradisional) bertahap sampai 2026-2034.

Kabar baik: untuk UMKM mikro & kecil, ada jalur Self-Declare GRATIS lewat program SEHATI. Panduan ini cara navigate.

Dasar hukum + timeline rollout

  • UU 33/2014 — Jaminan Produk Halal (dasar)
  • PP 39/2021 — Penyelenggaraan Jaminan Produk Halal
  • Permenag 26/2019 — sertifikasi
  • Permendagri 17/2024 — perpanjangan kewajiban

Timeline produk wajib halal:

TanggalKategori
17 Oktober 2024Makanan + minuman olahan + bahan baku pangan
17 Oktober 2026Kosmetik, obat tradisional, suplemen, alat kesehatan kelas A
17 Oktober 2029Obat-obatan + alat kesehatan kelas B-C
17 Oktober 2034Kelompok produk lain bertahap (jasa juga akan ditargetkan)

UMKM mikro-kecil yang baru mulai 2025-2026 = wajib siapkan sertifikasi dari sekarang.

2 jalur sertifikasi — Self-Declare vs Reguler

Jalur 1 — Self-Declare (gratis, untuk UMK)

Kriteria UMK qualify:

  • Omzet di bawah Rp 500 juta/tahun
  • Punya NIB (lewat OSS)
  • Produk simpel — bahan baku jelas halal, proses produksi tidak ada cross-contamination

Bahan baku yang TIDAK menyebabkan ineligible Self-Declare:

  • Tepung, gula, garam (komoditas)
  • Air, beras
  • Sayuran segar
  • Buah segar
  • Rempah-rempah halal jelas

Bahan baku yang BUTUH jalur Reguler (bukan Self-Declare):

  • Daging hewani (sapi, ayam, kambing, dll) — butuh sertifikat dari penyembelih halal
  • Gelatin, kolagen, emulsifier (asal hewani/uncertain)
  • Alkohol dalam bentuk apapun
  • Rennet (untuk keju) — wajib sertifikat origin halal
  • Mono- dan diglycerides (bahan additif yang origin uncertain)
  • Lechitin (asal kedelai OK, asal lain butuh konfirmasi)

Durasi Self-Declare: 14-30 hari kerja Biaya: GRATIS (dibiayai negara via program SEHATI) Kuota: Per tahun limited (cek kuota saat apply)

Jalur 2 — Reguler (berbayar, untuk produk komplex)

Kapan wajib jalur Reguler:

  • Produk dengan bahan baku hewani
  • Produk dengan bahan baku risk tinggi (gelatin, emulsifier, dll)
  • UMKM dengan omzet di atas Rp 500 juta/tahun (otomatis tidak qualify Self-Declare)
  • Produk yang diekspor

Proses:

  1. Daftar via SIHALAL
  2. LPH (Lembaga Pemeriksa Halal — biasanya LPPOM MUI) lakukan audit ke fasilitas produksi
  3. Cek bahan baku, alur produksi, kemasan, fasilitas
  4. Hasil audit ke MUI untuk fatwa
  5. Fatwa MUI terbit → BPJPH terbitkan sertifikat halal

Durasi: 60-120 hari kerja Biaya:

  • UMK: Rp 300.000-650.000
  • Usaha menengah: Rp 1-3 juta
  • Usaha besar: Rp 5-12 juta (tergantung skala fasilitas + jumlah produk)

Step-by-step pendaftaran via SIHALAL

Step 1 — Persiapan dokumen

Self-Declare:

  • KTP pemohon
  • NIB (lewat OSS) — kalau belum, panduan NIB OSS
  • Daftar bahan baku + supplier
  • Pernyataan kehalalan (template di SIHALAL)
  • Foto produk + kemasan

Reguler:

  • Semua dokumen Self-Declare +
  • Daftar produk yang akan disertifikasi (lengkap dengan formula)
  • Sertifikat halal dari supplier bahan baku (untuk daging, gelatin, dll)
  • Kebijakan halal internal perusahaan
  • Manual sistem jaminan halal

Step 2 — Daftar online via SIHALAL

  1. Buka ptsp.halal.go.id atau aplikasi Pusaka
  2. Register pakai NIK + nomor HP
  3. Pilih jalur: Self-Declare atau Reguler
  4. Isi formulir online
  5. Upload dokumen
  6. Submit

Step 3 — Pemeriksaan

Self-Declare:

  • BPJPH cek dokumen + verifikasi
  • Kalau qualified, sertifikat terbit
  • Durasi: 14-30 hari

Reguler:

  • LPH coordinate jadwal audit
  • Audit ke fasilitas produksi (1-2 hari)
  • Laporan audit ke MUI
  • MUI fatwa
  • BPJPH terbitkan sertifikat
  • Durasi: 60-120 hari

Step 4 — Sertifikat terbit + label halal

Sertifikat berlaku 4 tahun. Setelah terbit:

  1. Download sertifikat dari SIHALAL
  2. Wajib cantum logo halal BPJPH di kemasan
  3. Logo halal BPJPH (bukan logo MUI yang lama) — design official tersedia di portal BPJPH
  4. Update setiap ada perubahan bahan baku atau proses

Yang sering keliru saat sertifikasi halal

  1. Anggap NIB udah cukup untuk halal. NIB = identitas usaha, halal = sertifikasi terpisah. Wajib dua-duanya.

  2. Skip karena belum ada complaint. Compliance reactive ke complaint = late. Marketplace dan modern retail udah mulai filter produk gak halal.

  3. Pakai logo halal MUI lama. Sejak 17 Oktober 2022, logo halal MUI ganti ke logo BPJPH. Pakai logo lama = melanggar regulasi.

  4. Asumsi sertifikat halal selamanya. Sertifikat 4 tahun saja, harus diperpanjang. Set reminder kalender.

  5. Tidak update saat ada perubahan bahan baku. Ganti supplier atau ingredient tanpa update = sertifikat invalid + risiko legal.

Sumber resmi

Action plan: dari nol ke sertifikat halal

MingguAction
1Cek kategori produk + apakah qualify Self-Declare. Audit bahan baku
2Pastikan NIB ada. Daftar di SIHALAL, pilih jalur
3-4Upload dokumen + pernyataan (Self-Declare) atau koordinasi audit LPH (Reguler)
5-8 (Reguler only)Inspeksi LPH + fatwa MUI
9-12Sertifikat terbit. Update kemasan dengan logo halal BPJPH

Untuk Self-Declare: 2-4 minggu total. Reguler: 2-4 bulan.


Halal + PIRT = wajib untuk UMKM kuliner Indonesia. Pelajari juga cara daftar PIRT untuk UMKM kuliner. Untuk kemasan + branding yang sesuai standar, lihat membangun brand UMKM dari nol.

BagikanWhatsAppXLinkedIn

Edisi mingguan

Dapat insight UMKM tiap Selasa

1 email, 1 topik, 5 menit baca. Tanpa promo, tanpa spam. Berhenti kapan saja.

Kami tidak akan share email kamu ke pihak ketiga. Baca kebijakan privasi.

Baca lainnya

Artikel terkait